Skip Navigation
 

Newsletter:


Update produk:

Sistem menggunakan FeedBurner


Cek ongkos kirim:


bestsellers

  1. VIENBANDRp 75.000,-
  2. BHVW#38Rp 55.000,-
  3. CDY-LRp 50.000,-
  4. BHVW#36Rp 60.000,-
  5. CDY-MRp 50.000,-



Suffering + Willingness = Enjoyment

Dear Sahabat HamilCantik,

 

Setelah menikmati cuti liburan selama 6 bulan, akhir April lalu akhirnya saya memutuskan untuk benar2 berhenti bekerja sebagai staf sebuah perusahaan minyak & gas di Jakarta. Sebenarnya 1,5 bulan sebelum cuti berakhir, saya sudah datang ke kantor untuk menyatakan niat kembali bekerja. Saat itu saya pikir ada banyak waktu luang yang sayang jika tidak dimanfaatkan; si kakak (2,5th) sudah akan masuk sekolah Juli nanti, si adik (1th) sudah terkontrol alerginya dan tidak takut lagi dengan orang lain, bisnis sudah berjalan lancar dan tidak perlu saya tangani sendiri karena sudah ada Jeng Welly. Namun ternyata 2 hari kemudian kedua pengasuh anak2 saya yg sepupuan mendadak pulang kampung dengan alasan kakeknya meninggal dan tidak kembali lagi. Sementara mencari pengganti tidaklah semudah mencari batu di kali.

 

Jadilah saya mengurus anak2 sendirian dengan kondisi si kakak sedang dalam fase "trouble two" dan si adik dalam tahap "insecure". Jujur, saya yang terbiasa dibantu oleh 2 pengasuh pada awalnya sempat merasa tertekan. Saat itu yg ada di pikiran saya, kok ya rasanya jauh lebih mudah menengahi konflik di antara kru dibanding menengahi pertikaian si kakak dengan adik karena rebutan mainan & perhatian... Kok lebih mudah menyuruh kru lapangan berangkat ke luar negeri secara dadakan dibanding menyuruh anak2 tidur... Kok lebih mudah mengurus dokumen2 perjalanan dan work permit dibanding mengurus rumah yg nggak rapi2 karena selalu diacak anak2... Kok lebih mudah mengatasi mogok kerja kru lapangan dibandingkan mengatasi tantrum si kakak dan rengekan si adik... Rasanya kok lebih nyaman kalau saya bekerja di kantor ya dibanding di rumah seperti ini?

 

Lalu saya berpikir, rasanya ada yang salah… Ya, cara berpikir saya yang salah. Saya terlalu sibuk membanding-bandingkan sehingga lupa bersyukur. Jika semua hal dibandingkan, mana ada habisnya. Betapa saya kurang bersyukur, padahal saya begitu beruntung. Beruntung karena telah dikaruniai dua anak yg sehat dan lucu2, diberi waktu & kesempatan untuk mengurus mereka dengan tangan sendiri setiap hari, sehingga tidak perlu was2 meninggalkan anak di rumah, tidak perlu khawatir anak dipukuli pengasuh seperti yg saya baca di milis, atau bahkan dibekap sampai mati hanya karena terus menangis seperti yg saya baca di Koran! Beruntung karena memiliki suami yg pengertian, tidak pernah menuntut apalagi merendahkan, mau berbagi tugas mengurus anak, superdad lah pokoknya! Beruntung karena rumah dekat dengan orangtua & saudara2, ada karyawan yg menjalankan bisnis, masih ada mbak yg pulang hari, ada sopir yg bisa diminta tolong beli ini itu. Beruntung karena belum usia 30 sudah memiliki bisnis sendiri, hingga bisa tetap menghasilkan uang meski tidak keluar rumah. Beruntung karena mantan2 bos begitu baik hingga sang komisaris dan direktur mengatakan langsung bahwa pintu selalu terbuka setiap saat saya ingin bekerja kembali. Kurang apa lagi? Maafkan saya ya Tuhan!

 

Kini meski sudah mendapatkan 2 orang pengasuh pengganti yg datang sendiri tanpa dicari, saya tetap mengurungkan niat kembali ke kantor. Setelah merasakan 42 hari mengurus anak2 sendiri, saya malah merasa harus berterima kasih kepada para pengasuh yg lama. Karena dengan keluarnya mereka, saya jadi tidak punya alasan untuk kembali bekerja di kantor. Dan ini seperti petunjuk dari Tuhan supaya saya tetap stay at home. Meskipun saya harus melepaskan kesenangan berkarir, karena menjadi sekretaris adalah cita2 saya sejak kelas 5 SD. Meskipun orangtua sempat kecewa, karena merasa susah payah menyekolahkan saya hingga kuliah tapi ujung2nya kembali ke rumah. Meskipun sejak dulu saya tidak pernah kepikiran untuk menjadi stay at home mom. Tapi saya yakin, kapanpun saya ingin kembali bekerja, masih banyak yg mau menerima. Sementara jika saya ingin melihat perkembangan anak2 khususnya semasa batita, apakah saya bisa mengulangnya? Lalu apakah pendidikan tinggi jadi mubazir jika saya pakai untuk mendidik anak2? Dan yg terpenting, apa alasan utama saya bekerja? Jika karena uang, okelah. Tapi jika untuk aktualisasi diri, rasanya masih bisa saya kesampingkan deh demi anak2 yg lebih butuh perhatian saat ini.

 

Jujur saja, mengurus anak2 itu memang sangat menguras tenaga dan memeras kesabaran. Dibutuhkan niat dan ketekunan yg luar biasa. Terus terang, saya sebagai ibu 2 anak saja masih sering emosi menghadapi tantrum anak kandung, apalagi para pengasuh yg rata2 masih berusia belasan, belum punya anak, dan harus mengurus anak orang pula? Ada hal penting yg ingin saya bagi dengan para orangtua: jika ingin anak2 tumbuh bahagia, buatlah orang yg mengasuh mereka bahagia terlebih dahulu. Bila sehari2 anak bersama pengasuh, jangan buat ia terlalu lelah dengan pekerjaan rumah. Bila sehari2 anak bersama eyangnya, beri mereka perhatian lebih. Bila sehari2 anak bersama bunda, buatlah diri bunda bahagia dan bersyukur. Dengan senantiasa merasa bahagia & bersyukur, kita bisa ikhlas menjalani tugas dan menikmati keadaan. Bener banget deh kata Stephen Tong : suffering + willingness = enjoyment.

 

Saya tidak mengatakan menjadi ibu rumah tangga itu lebih mulia dari ibu bekerja, atau sebaliknya. Tidak, karena kondisi kita berbeda2, adalah hak kita pribadi untuk menentukan pilihan, dan tak ada yg berhak menghakiminya. Lagipula garis hidup setiap orang kan siapa yg bisa menebak. Yang ingin saya sampaikan adalah: syukuri segala yg kita miliki, dan apapun pilihan kita, jalanilah dengan sepenuh hati. Jika Bunda saat ini masih bekerja, bersyukurlah karena masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berkarya, mendapatkan penghasilan, dan mengaktualisasi diri melalui pekerjaan. Jalanilah pekerjaan dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi. Karena jika kita bekerja setengah hati, pekerjaan itu beban. Jika kita bekerja sepenuh hati, pekerjaan itu tantangan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

 

Seperti saat Bunda menjalani masa kehamilan dan menyusui sekarang ini, jalanilah dengan segenap hati. Caranya? Jaga kesehatan, atur asupan makanan, kendalikan suasana hati, dan rawat penampilan diri. Salah satu cara merawat penampilan diri adalah melalui pakaian yang Bunda kenakan. Nah, HamilCantik sebagai sahabat bunda hamil siap sedia dengan produk terbaru edisi Mei 2009. Silahkan dicek di web, atau jika belum mendaftar untuk mendapatkan katalog setiap bulannya, segera kirim email kosong ke info[@]hamilcantik[.]com dengan subjek KATALOG.

 

Selamat menjalani kegiatan sehari2 dengan sepenuh hati!