Pilih Karir Atau Keluarga?
- Apa kepentinganmu bekerja? Apakah demi uang, untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Apakah demi sosialisasi, untuk mengaktualisasikan diri? Apakah demi kesibukan, untuk mengisi waktu luang? Jika alasannya adalah yang pertama, tentu pilihannya jadi lebih sulit dibandingkan yang kedua apalagi yang ketiga ya.
- Apa alasanmu berhenti bekerja? Tanyakan dirimu sendiri sejujur2nya, apa 1 hal paling kuat yang membuatmu merasa harus berhenti bekerja. Alasan terkuat itulah yang akan memotivasi dirimu kembali di saat mulai mempertanyakan, apakah keputusan saya sudah tepat?
- Sudah siapkah kamu dengan segala konsekuensi atas pilihan yang akan diambil? Jangan sampai setelah memutuskan, kamu justru menyesali keputusan itu dan terpaksa menjalani dengan setengah hati.
Sebagai ibu 2 balita yang juga mengelola butik online dari rumah, dan pernah merasakan 8 tahun bekerja kantoran, izinkan saya berbagi pemikiran dan pengalaman ini …
- Menjadi ibu rumah tangga sangatlah tidak lebih mudah dibanding menjadi wanita karir. Saat bekerja di kantor, saya terbiasa melakukan multitasking (tugas ganda). Menulis email sambil menjawab telepon sekaligus membalas chat rekan via skype, menjadi kegiatan sehari-hari. Meski demikian saya tetap bisa fokus, karena hanya menjalankan satu peran: sebagai wanita bekerja. Ketika bekerja dari rumah, saya melakukan multirole (peran ganda). Menjadi koki, pengasuh, manajer keuangan, sekaligus pemilik usaha, juga ibu & istri yang baik tentunya. Tak jarang, saya memasak sambil menemani anak2 bermain sekaligus menerima telpon dan membalas email via HP. Jadi bila alasanmu berhenti bekerja adalah karena stress di kantor dan berharap stress itu hilang dengan stay di rumah, pikirkan ulang ya. Dan bila ada yang meremehkan profesi ibu rumah tangga, tolong minta orang itu untuk merasakan beratnya menjadi ibu rumah tangga baru bicara.
- Dibutuhkan kesabaran super extra untuk menghadapi tingkah laku anak selama 24 jam. Selucu-lucunya dan senurut-nurutnya anak, pasti ada kalanya mereka being difficult, terutama saat tantrum. Ketika masih bekerja kantoran, saya lebih sabar menghadapinya karena ada rasa kangen sekaligus rasa bersalah telah meninggalkan mereka selama 10-12 jam. Ketika telah bekerja di rumah, rasa kangen dan bersalah itu hilang berganti dengan rasa penat dan lelah. Nah bayangkan, saya yang ibu kandung dan telah berusia di ujung 20an saja masih merasa kurang stock kesabaran menghadapi anak sendiri, apalagi pengasuh yang rata2 belum punya anak dan usianya masih belia? Apalagi bila pengasuh itu masih harus mengurus pekerjaan rumah tangga, bisa dibayangkan capeknya. Maka jangan heran bila rata2 asisten rumah tangga susah betah di rumah yang ada anak kecilnya.
- Miliki waktu untuk diri sendiri itu sangatlah penting. Saat bekerja kantoran, waktu untuk diri sendiri selalu ada setiap hari. Entah kala makan siang bersama teman2, merenung di macetnya perjalanan, atau membaca di kala pekerjaan senggang. Saat menjadi ibu rumah tangga, waktu untuk diri sendiri setiap hari hanyalah saat (maaf) buang air saja. Bahkan untuk mandi, makan, dan tidur pun selalu bersama anak2. Untuk menyiasatinya, saya me-reward diri sendiri dengan mengakumulasi me-time setidaknya 1 hari dalam seminggu. Saya pergunakan hari itu entah untuk belanja, treatment di salon/spa, jalan2 dengan teman, atau menghadiri acara seperti gathering / seminar / talkshow. Kalau merasa berdosa meninggalkan anak2 sehari saja, lalu apa rasanya meninggalkan anak2 setiap hari kerja?
- Yang tidak kalah penting, bahkan menurut saya paling penting adalah… dukungan suami. Dengan perhatian, kasih sayang dan cintanya, semua beban akan terasa lebih ringan. Jika para suami senang disambut dengan penampilan istri yang cantik dan seksi, maka para istri pasti senang menyambut suami yang pulang dengan senyum dan pelukan. Dan bila telah berada di rumah, seyogianya para suami lupakan pekerjaan kantor dan fokus dengan keluarga. Karena apalah arti keberadaan kita di sekeliling orang2 tercinta, apabila pikiran kita bukan untuk mereka. Saya beruntung, memiliki suami yang mau berbagi tugas dan hampir tidak pernah menuntut. Ia menempatkan saya sebagai partner sejajar dalam berbagai hal, termasuk keuangan. Oh, that reminds me of… the next point.
- Dengan berhenti bekerja kantoran, jangan berarti berhenti pemasukan ya. Tetaplah menghasilkan uang, bagaimanalah caranya, asalkan halal. Kalau saya, ya dengan mengelola butik online HamilCantik.com . Dengan demikian, saya tidak bergantung pada suami dalam hal keuangan. Saya tetap bisa memiliki uang sendiri dan berkontribusi pada keuangan keluarga. Ohya, saya dan suami menerapkan sistem keuangan 50-50 alias ditanggung bersama. Artinya, bila pengeluaran bulan ini misalkan 20jt, ya suami kontribusi 10jt, saya 10jt. Adil sama rata. Kesejajaran ini penting lho, untuk menghilangkan rasa superior di salah satu pihak. Persoalan keuangan juga kan menjadi satu dari 3 penyebab terbesar perceraian (selain perselingkuhan dan anak2). Coba bayangkan, kalau udah nggak punya uang, suami selingkuh, dan kewalahan ngurus anak. Wah…
So, menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, semua ada tantangannya. Jangan mengatakan menjadi ibu rumah tangga itu lebih mulia atau sebaliknya, karena kondisi kita berbeda-beda. Adalah hak pribadi kita untuk menentukan pilihan, dan tidak ada yang berhak menghakimi keputusan kita. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan. Selamat menentukan pilihan.
Cheers,
Nuniek Tirta Sari
Mom of Michelle (3,5) & Vica (2)
Owner of HamilCantik.com
Ditulis untuk memperingati 1 tahun resmi vakum dari karir demi keluarga.




